• Tampilkan postingan dengan label Islamic Charge. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Islamic Charge. Tampilkan semua postingan

    Mengapa Aktivis Dakwah Kampus harus prestatif?


    Masih teringat  sebuah pesan yang diucapkan ketika ibu mengantarkan saya menuju gerbang perkuliahan, “Belajar yang rajin ya, Nak… agar nilainya bagus dan cepat lulus”.  Sebuah do’a dan harapan dari orang tua yang merawat dan mendidik saya sejak lahir. Tentunya kata-kata ini tak akan saya lupakan, bagaimanapun ini adalah amanah dari orang tua. Sejauh yang saya pahami kita wajib mematuhi orang tua selama ia tidak mengajak untuk menyekutukan Allah. Saya yakin semua orang tua mempunyai harapan yang sama bagi anaknya yang merupakan mahasiswa. Menjadi pribadi yang sukses yang dalam pengetahuan mereka parameter kesuksesan di kampus ini adalah cepat lulus dan IP memuaskan.

    Prestasi adalah suatu hasil usaha yang dicapai dari apa yang dikerjakan atau yang diusahakan. Saya kira tak ada salahnya jika saya menganggap bahwa aktivis kampus yang lulus cepat dengan IPK yang baik merupakan suatu prestasi yang membanggakan dan patut ditiru, dan saya rasa semua orang tua pun menganggap hal yang sama. Pasalnya karena memang IPK merupakan salah satu parameter keberhasilan mahasiswa selama menempuh jenjang perkuliahannya.
    IPK atau indeks prestasi kumulatif (GPA or grade point average) merupakan nilai akhir evaluasi seorang mahasiswa selama jenjang perguruan tinggi baik tahap sarjana, master maupun tahap doktoral. Tidak dapat dipungkiri IPK menjadi tolak ukur kecerdasan akademiki seseorang dalam bidang tertentu di kampus secara de jure.
    Dalam hal penyikapan sebagai seorang Aktivis dakwah Kampus (ADK), IPK sesungguhnya begitu penting bagi seorang ADK. Setidaknya, menurut saya ada 3 hal urgensi dari IPK tersebut khususnya untuk perjalanan dakwah kita.
    Pertama, IPK atau prestasi akademis merupakan sarana syi’ar yang penting bagi ADK untuk dakwah fardhiyah dan rekrutmen. Lingkungan kampus berisi orang-orang pandai yang memiliki intelektualitas tinggi dan logis. Objek dakwah di lingkungan ini yakni pertama diri kita, mahasiswa, dosen dan staf yang ada di kampus memiliki karakter tersendiri. Dosen dan mahasiswa merupakan dua elit yang sangat berperan di sivitas akademika. Dimata mereka orang yang dianggap hebat adalah mereka yang memiliki prestasi akademis yang tinggi dan mampu memecahkan persoalah secara ilmiah. Ketika IPK kita hancur apalagi sampai Drop Out, tentunya kita sebagai aktivis dakwah tentunya akan lebih sulit mendakwahi objek dakwah kita di kampus. Akan lebih berat pula untuk mendakwahi mahasiswa yang tertarik dengan karya tulis dan kegiatan ilmiah diluar aktivitas kuliah sedang kita sendiri berat untuk melakukannya. Jika ada yang beranggapan bahwa tanpa ditunjang prestasi yang baikpun seorang ADK masih bisa berdakwah, apalagi jika ADK tersebut ditunjang dengan prestasi yang baik? Karena dalam sejarah para nabi, sahabat, dan alim ulama berdakwah memiliki prestasi untuk dijadikan kekuatan dalam syiarnya.
    Kedua merupakan sebuah keniscayaan bagi seorang ADK untuk menjadi qudwah atau teladan bagi setiap objek dakwah dalam berbagai aspek termasuk akademis.  Di dalam Islam keteladanan itu menjadi sangat penting. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan Rasulullah Muhammad Shallahu ’Alaihi Wassalam sebagai teladan bagi kaum muslimin.
    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al Ahzab : 21)
    Begitu juga seorang ADK, harus senantiasa bisa memberikan keteladan dalam berbagai aspek, tidak hanya ubudiyah dan akhlakul karimah saja tapi juga aspek akademis. Jangan sampai aktivis dakwah berdalih atau membenarkan IPK kita rendah karena kesibukan dalam amanah dakwah. Apalagi sampai keluar ungkapan bahwa “ IPK di bawah 2.00 bahkan Drop Out adalah syahidnya seorang ADK”.
    Seorang ustadz yang pernah menyusun trilogi dakwah kampus (Da’wi, Ilmi dan Siyasi) mengatakan bahwa buruknya prestasi kader itu terjadi karena kurangnya kedisiplinan dari kader dalam mengatur urusannya. Dan sesungguhnya ikhwah fillah, aktivitas dakwah kita tidaklah mengambil waktu belajar atau kuliah kita, tapi hanya mengambil waktu yang kurang bermanfaat dari diri kita atau sedikit waktu tidur kita. Maka jikalau prestasi akademis kita menurun, sungguh itu karena kesalahan kita sendiri.
    Dan yang ketigaIPK yang bagus merupakan kunci untuk membuka gerbang menuju dakwah profesi.  Dakwah ini jalan panjang. Perlu kita sadari bahwa dakwah kita tidak hanya sebatas berhenti di kampus saja. Akan tetapi harus berlanjut bahkan lebih gencar di dunia profesi. Tiga sektor pasca kampus yaitu public sectorprivate sector dan third (social) sector merupakan lawan dakwah yang harus kita hadapi guna menyebarkan fikrah islam dan membentuk bi’ah islami di tempat kita bekerja. Apalagi jikalau pekerjaan kita menyangkut hajat hidup orang banyak atau menyangkut kepentingan publik, sangat penting untuk menjaga agar tidak terjadi penyelewengan fungsi yang bisa merugikan masyarakat. Dan fungsi itu tidak kita bisa kita tunaikan apabila kita tidak bisa memasuki sektor tersebut. Realitanya kebanyakan dari sektor publik dan privat menghendaki standar IPK minimal agar kita bisa bekerja di sana dan itu adalah syarat administrasi awal. Oleh karena itu, tentu kita akan kesulitan berdakwah di sana kalau IPK kita tidaklah bagus atau paling memenuhi standar minimal.
    Pada akhirnya tiada prestasi berarti tanpa niat dan ikhtiar. Oleh karena itu, mari kita sebagai Aktivis Dakwah Kampus senantiasa memperbaiki diri kita guna menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang memberikan keteladan dalam ubudiyahakhlakul karimah, aktivitas dakwah dan juga dalam hal prestasi akademis. Insya Allah dengan ikhtiar yang kuat dan doa yang tulus, Allah akan memberikan hasil terbaik atas usaha-usaha yang kita lakukan. Wallahu ‘alam bisshawab.

    (Dikutip dari berbagai sumber)

    Kawanku, Mengapa Kau Buka Jilbabmu?


    Saat itu adalah masa dimana kami mahasiswa semester 7 mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 35 hari. Atas rencana Allah, aku ditempatkan di kabupaten Kendal - Jawa tengah. Kami satu tim, 6 putri dan 4 putra diberikan tempat tinggal yang sama. Satu atap, hanya bersebelahan kamar.

    Sebelumnya aku sudah mempersiapkan diri jika kondisi ini terjadi. Aku adalah wanita berjilbab. Sudah selayaknya bagiku untuk tetap menjaga diri dalam kondisi apapun selama KKN, termasuk serumah dengan lawan jenis. Persediaan Jilbab, kaus kaki, dan baju ganti yang senantiasa menutupi aurat.
    Hari pertama di tempat tinggal sementara ini kuhadapi dengan kesiapan diri yang maksimal. Apapun yang terjadi aku harus tetap nyaman disini. Alhamdulillah selama masa perkenalan sebelum keberangkatan, aku mengenal teman-teman satu timku sebagai orang-orang yang baik. Dari 5 teman perempuan, 3 orang berjilbab sepertiku. Setidaknya aku punya teman untuk berbagi semangat atau bahkan berbagi pakaian selama di tempat KKN.
    Hal mengagetkan rupanya sangat cepat menampakkan diri di hari pertama itu. 1 orang temanku yang berjilbab melepas jilbabnya begitu saja beberapa jam setelah kami sampai. Tidak berhenti disitu, teman sekamarnya yang juga berjilbab ikut serta membuka jilbabnya. Dua temanku yang tak berjilbab nampak kaget melihat teman kami melepas jilbabnya di depan lawan jenis, apalagi aku. Dan Lengkap sudah ketika teman sekamarku juga memutuskan untuk tidak berjilbab ketika di rumah penginapan, dengan alasan dia membawa baju-baju lengan pendek untuk pakaian sehari-hari.
    Astaghfirullah….saat itu aku hanya bisa memohon ampun pada Allah karena tak bisa menyelamatkan hijab teman-temanku. Dan senantiasa memohon agar aku diberikan keistiqomahan untuk menutup aurat ini apapun kondisinya.
    Kawanku, mengapa kau lepas jilbabmu. Tidakkah kau tahu bahwa merupakan sebuah kewajiban bagi seorang wanita untuk berjilbab didepan lawan jenis yang bukan mahramnya?

    Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Q.S. An-Nur : 31)

    Lagi-lagi hidup adalah pilihan. Begitu pula soal prinsip dan komitmen. Barangkali sebagian wanita memang belum tahu akan kewajiban menutup aurat ini, atau mungkin sudah faham benar tapi memilih untuk menunda menaati kewajiban tersebut. 

    Wahai kawanku, jikalau kau belum tahu, maka ketahuilah bahwa wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Ia senantiasa menjaga aurat dan kehormatannya. Mematuhi segala perintah TuhanNya. Ialah bidadari yang senantiasa dirindukan syurga. Wahai kawanku, jikalau kau sudah tahu maka laksanakanlah kewajibanmu, dan jika kau merasa belum sanggup maka berdoalah, semoga Allah memudahkanmu menjadi pribadi yang mempesona. Wallahu a’lam.

    Ujian Oh….Ujian


    Semua orang mesti pernah dapet ujian…kalo ada yang ngaku belum pernah dapet ujian, bohong 110% atau mungkin nggak peka kalo dia sebenarnya lagi di uji…hehe

    Mmm…kadang ketika di uji, rasanya jiwa ini lemah sekali. Merasa seakan-akan Allah tidak mencintai kita, sampai-sampai Dia membiarkan kita terseret dalam kepayahan. Faktanya, ketika Allah memberikan ujian adalah bukti cinta pada HambaNya. Allah menguji kita seberapa kuat kita bertahan dan senantiasa tetap bergantung dalam tali iman kepadaNya.


    Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh: 124

    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim

    Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa Allah menguji Nabi Ibrahim dengan ujian yang sangat berat tidak lain adalah karena Allah berencana untuk menjadikan Nabi Ibrahim sebagai seorang Imam, yang akan menaikkan derajatnya dihadapan Allah.

    Sungguh…kita sebagai seorang muslim harus senantiasa sabar dan kuat dalam menghadapi Ujian, karena jika kita putus asa dan memutuskan untuk berhenti maka peluang untuk menaikkan derajat keimanan itu seakan-akan hilang ditengah jalan. Namun jika kita dapat melaluinya dengan kesungguhan dan kesabaran maka kita termasuk ke dalam golongan umat yang terbaik.

    “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (Q.S. Ali Imran : 186)

    “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (Q.S Alkahfi :7)

    Dan ingat kan apa yang Allah sampaikan pada surat Al-Insyirah Ayat 5-6? Allah sampai meyebutkan dua kali bahwa sesungguhnya di dalam kesulitan itu ada kemudahan. Maka yakinlah, bahwa semua ujian yang kita hadapi Insya Allah pasti selalu ada kemudahan untuk dapat melaluinya. Karena Allah menguji kita sesuai dengan kadar kemampuan kaumNya. Maka ketika datang ujian dari Allah, maka sambutlah dan hadapi dengan penuh kesabaran. J

    Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Q.S Al-Insyirah 5-6) 




    RESUME BUKU RISALAH MANAGEMEN DAKWAH KAMPUS


    Oleh: Linda Karlina


    Sebelum melakukan kegiatan dakwah kampus yang merupakan bagian dari dakwah Islam pada umumnya, pemahaman akan dakwah Islam  itu sendiri haruslah dipahami terlebih dahulu. Bentuk dakwah apapun yang dilakukan oleh kita baik dalam skala individu ataupun berkelompok haruslah sesuai dengan pedoman dan asholah yang ada.
    Dakwah pada hakikatnya adalah mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, sehingga mereka meninggalkan  thagut dan beriman kepada Allah agar mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam. Dalam proses realisasi menuju sebuah tujuan dakwah, yakni tegaknya tauhid di atas bumi ini, maka pelaksanaannya harus disandarkan pada metode-metode yang telah digariskan Allah. Adapun metode yang yakni dengan hikmah, pengajaran yang baik (mau’izhah hasanah) serta dengan kekuatan argumen, tidak dengan paksaan dan kekerasan
    Urgensi dan kebutuhan akan keberadaan dakwah kampus adalah dihasilkannya alumni yang berafiliasi terhadap Islam serta mengoptimalkan peran kampus dalam proses transformasi masyarakat menuju  masyarakat yang madani. Untuk ADK (Aktivis Dakwah Kampus) sendiri dakwah  kampus dijadikan sebagai tempat  latihan beramal, mempersiapkan diri untuk memasuki medan dakwah yang lebih berat, yakni dakwah di masyarakat kelak.
    Dakwah kampus memiki fungsi yaitu dalam hal  dakwiy (syi’ar dan kaderisasi) dan khidamy (pelayanan),  siyasi (sosial dan politik),  faniy (keprofesian) dan ilmiy (keilmuan) sebagai akselerasi dakwah dalam tuntutan kemajuan zaman.
    Pada pelaksanaannya, dakwah juga mengenal tahapan-tahapan yang penting untuk dipahami, yaitu:
    Tahap perkenalan dan penyampaian
    Tahap pembinaan
    Tahap Pengorganisasian
    Tahap pelaksanaan
    Sedangkan beberapa perangkat pembinaan yang dapat digunakan untuk membina kader-kader LDK pada umumnya adalah:
    1. Usrah/mentoring
    2. Seminar, dialog, dan pelatihan
    3. Rihlah
    4. Mabit
    5. Daurah
    6. Ta’lim
    7. Camping/Mukhayyam
    Pergerakan pada level LDK sekalipun haruslah memiliki pengenalan terhadap amal prioritas yang harus dilakukan LDK. Dan levelisasi memiliki nilai prioritas dalam mengarungi medan amal di kampus. Pengetahuan akan agenda LDK  apa yang harus didahulukan,  dan agenda apa yang diakhirkan, agenda apa yang vital dan menjadi parameter keberlangsungan LDK dengan agenda yang sifatnya sementara saja, dan semacamnya. Hal ini menjadi penting mengingat sumber daya dan kondisi LDK yang ada. Parameter-parameter levelisasi LDK diklasifikasikan ke dalam aspek sumber daya manusia, fokus dan lingkup agenda, perangkat organisasi, kesekretariatan, da’awi (syi’ar dan kaderisasi), eksternal lembaga, keuangan dan pendanaan.
    Proses kaderisasi bertujuan menghasilkan kader yang memiliki  kecakapan (muwashofat) kader sehingga terbentuk pribadi yang unggul. Dalam menjalankan peran dan mencapai tujuannya, sebuah organisasi membutuhkan perencanaan dan konsep yang matang dalam bentuk sistem, mekanisme, dan perangkat yang jelas. Demikian pula bagi sebuah Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Kejelasan hal-hal mendasar tersebut bagi seluruh anggota LDK berperan dalam mengontrol pergerakan LDK dan mencegah kemungkinan penyimpangan dari tujuan awal yang ditetapkan.
    Untuk menjalankan semua yang dijelaskan di atas, ada perangkat-perangkat ataupun mekanisme organisasi yang umum dibutuhkan, seperti Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Garis-garis Besar Haluan Kerja/Organisasi, juklak dan juknis Rapat Kerja, serta beberapa perangkat lain sesuai kebutuhan masingmasing LDK. Untuk menyuarakan syi’ar Islam kepada masyarakat kampus, mutlak dibutuhkan media-media pendukung agar syi’ar yang ditebar dapat tersampaikan kepada objek dakwah. Media yang dapat digunakan sangat beragam, dalam hal ini media tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu syi’ar melalui media non-even dan dengan media even.
    Dana merupakan salah satu hal yang vital guna menunjang kelancaran agenda-agenda dakwah. Dana yang dibutuhkan dapat bersumber dari dua hal yaitu dari Usaha mandiri dan dana dari sumber eksternal.  Dana dari sumber internal biasanya diperoleh. adalah Membangun jaringan LDK pada dasarnya adalah membangun silaturahim untuk
    Memperkuat ukhuwah islamiyah dengan komponen luar.mandiri dilakukan oleh Biro Dana Usaha dan Biro/Departemen lain dalam LDK. Sedangkan Dana dari Sumber Eksternal dapat diperoleh dari Dana Kemahasiswaan dan Donatur.
    Salah satu hal yang harus disadari oleh LDK adalah bahwa kebutuhan akan dana adalah hal yang sangat vital dan tidak dapat dipandang remeh, Tanpa dana yang cukup, “acara-acara” dakwah kita tidak berjalan secara optimal. Sebagai lembaga dakwah yang mengusung nama kampus di  dalamnya, akan sangat naïf kalau kemudian terlihat ‘tidak cerdas’ dalam mengumpulkan dan meng’create’ dana.
    Beberapa hal mendasar mengenai teori fund raising yang aplikatif dalam dakwah kampus adalah yang pertama, ide dasar dalam proses pencarian dana. Kedua, orang atau badan yang bertanggungjawab dan memiliki wewenang, dalam pencarian dana baik secara operasional ataupun konsep Ketiga, jenis-jenis penggalangan dana, meliputi usaha mandiri, sponsorship, dan pencarian donasi. 

    KONSEP BIRUL WALIDAIN DAN APLIKASI MEMULIAKAN TETANGGA




              Birul walidain atau sering diartikan sebagai berbakti kepada kedua orang tua, merupakan salah satu kewajiban muslim yang tidak boleh ditawar. Mengapa? Karena itu merupakan tugas pokok manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dari sepasang manusia yang telah berjasa dari awal kehidupannya. Mari kita telisik lebih jauh mengenai hal ini. Check this out (^-^)9
              Dalam surat An-Nisaa’ ayat 36 juga dijelaskan bahwa :
    “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan sesuatu dengan Dia. Dan berbuatlah baik kepada kedua orang tua, orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, kawan akrab, orang musafir (atau tamu) dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang lagi membanggakan diri”.
    Juga ditegaskan pada QS. Al-Isra’ 23-24 yang artinya
    “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah kecuali kepada Allah. Berbutalah baik kepada kedua orang tuamu. Jika salah satu dari keduanya atau kedua-keduanya mencapai usia lanjut di sampingmu, makajangalah kamu mengatakan, “Ah” kepada mereka dan janganlah kamu membentak mereka, dan janganlah kamu membentak mereka, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua karena sayang, dan ucapkanlah “Ya Tuhanku, berilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.”
    Hak Orang Tua terhadap Anaknya
              Disebutkan bahwa orang tua memilki sepuluh macam hak pada anaknya : 1) makan kalau dia memerlukan 2) pelayanan kalau dia memerlukan 3) memenuhi kalau dipanggil 4) taat jika dia memerintahkan hal yang tidak maksiat  5) berbicara kepadanya dengan lemah lembut dan tidak kasar 6) jika memerlukan pakaian anak wajib memberinya jika mampu 7) kalau berjalan dibelakangnya 8) berusaha membuat lega hati orang tua, dengan semua hal yang disukainya untuk dirinya 9) benci terhadap hal yang dibencinya untuk dirinya sendiri 10) mendoakan padanya dengan ampunan seperti berdoa untuk dirinya sendiri. (Tanbihul Ghafilin).
              Dari Al-Faqih, dia berkata: “Pernah ditanyakan mengenai kedua orang tua yang meninggal dengan jengkel terhadap anaknya. Apakah masih mungkin untuk berusaha mendapatkan ridha mereka bagi si anak? Dijawab: “Ya bisa, dengan tiga hal: 1. Jadilah anak itu seorang yang shalih 2. Menyambung hubungan sanak famili dari kedua orang tuanya 3. Memohonkan ampun dan mendoakan mereka serta bersedekah untuk mereka.” (Tanbihul Ghafilin).


    Memuliakan Tetangga
              Dari Anas bin Malik, Nabi Muhammad saw bersabda: “Tidak akan lurus keimanan seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sehingga lurus lidahnya. Dan seorang mukmin tidak akan masuk surge sehingga tetangganya selamat dari lidahnya.”
              Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang memuliakan tetangganya wajiblah surge baginya, dan barangsiapa yang menyakiti tetanganya maka Alah mela’natnya, malaikat dan manusia seluruhnya.” (Hayatul Qulub).
    Maka terhadap tetangga hal yang dapat kita lakukan contohnya yaitu
    1)     Menyapa atau member salam apabila bertemu
    2)    Saling berbagi makanan atau rezeki
    3)     Saling tolong-menolong  dalam hal kebaikan
    4)    Menyenangkan hati tetangga
    5)    Tidak menggunjingnya dan berbuat buruk padanya
    6)    Berusaha unuk sering silaturrahmi mengunjungi rumahnya agar ukhuwah persaudaraan tetap terjaga

    -Selina_

    STOP GHIBAH!



    Ssstttt.... jangan gosip donk!


    Apa itu ghibah?
    Ghibah artinya membicarakan orang lain dimana orang yg kita bicarakan tidak mengetahuinya, baik itu tentang fisik, perilaku, kodisi keluarga atau yang lainnya. Ghibah cenderung membicarakan hal-hal negatif atau keburukan orang lain.
    Lalu hukumnya gmana? ya jelas nggak boleh donk...orang yang melakukan ghibah akan mendapat dosa atas perbuatan yang dilakukannya.

    Alhujurat (49) : 12
    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
    Dari ayat di atas, orang yang melakukan ghibah diibaratkan memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati/bangkai. jelas dalam hal ini hukum ghibah adalah haram. 

    Lalu apa kira-kira sebab orang melakukan ghibah?
    • Karena hasad (dengki)Perasaan tidak suka terhadap orang lain yang lebih baik bisa menimbulkan keinginan untuk ghosip.Ghibah yang dilakukan dalam rangka menjatuhkan orang lain yg lebih baik trsbut
    • Balas dendamPenyebab ini sama halnya dengan hasad. orang yang berniat membalah dendam akan melakukan ghibah untuk menjatuhkan org lain
    • Menjilat/ mencari mukaOrang seperti ini akan menjelek-jelekan orang lain agar atasannya akan lebih memilih dirinya, atau menempatkan dirinya pada jabatan yg lebih tinggi dari org lain
    • Untuk mengolok-olok orang lain"janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka lebih baik dari yang mengolok-olok"



    Bahaya ghibah
    1. Terbuka aib dunia dan akhirat Orang yang suka membuka aib orang lain, maka Allah akan memperlihatkan keburukannya di dunia maupun di akhirat. 
    2. Dapat menyakiti hati saudaranya
    3. Bentuk kedzoliman
    4. Akan mendapatkan adzab di akhiratRasululah ketika isra' miraj melewati neraka, melihat orang yang sedang mencakar-cakar wajahnya sendiri. lalu Rasul bertanya kepada malaikat "siapakah dia?" lalu malaikat menjawab " dia adalah orang yang suka membuka aib saudaranya"
    5. Memecah belah umat
    6. Gugurnya pahala si pelakuApabila hal yang dikatakan adalah benar, maka itulah ghibah, dan jika yang dikatakan itu bohong maka hal itu namanya fitnah, dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan




    Ghibah yg dibolehkan
    • Mengadukan kedzolimanMisal : mengadukan kedzoliman kepada hakim untuk mendapat keadlian
    • Mengubah kemungkaran
    • Meminta fatwa
    • Memperingatkan kaum muslimin dari keburukanMisalkan mencontohkan ada suatu keburukan, supaya orang-orang tidak melakukan hal yang sama
    • Menggibah org yg melakukan kejahatan terang-terangan
    • Untuk mengenalkan seseorang kepada orang lain



    Cara mencegah ghibah
    1. Ingat bahwa Alah marah/ tidak menyukai org yang suka ghibah
    2. Pahala org menggibah akan di berikan kpda yang dibicarakanKetika pahala sudah habis, maka keburukan orang yang dighibahi akan diberikan kpda orang yang mengghibah
    3. Menyadari bahwa ghibah hanya akan mengotori diri dengan aib yg paling buruk
    4. Memutus sebab-sebab ghibah sampai ke akar-akarnya

    Komitmen Muslim Sejati

    Judul Buku : Komitmen Muslim Sejati
    Judul Asli : Madza ya’ni Intima’i lil Islam
    Penulis : Fathi Yakan
    Penerjemah : Murtadlo, Hawin
    Penerbit : Era Intermedia
    Tahun : 2002
    Ukuran Buku : 194 hal; 19 cm
    ISBN : 979-9183-71-5
    Edisi Cetakan : Cetakan pertama, Juni 2002
    Perangkum : pustaka hanan
    Buku ini terbagi atas dua bagian. Bagian pertama memaparkan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang muslim, sehingga ia bisa benar-benar menjadi muslim. Bagian ini menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh siapa saja yang menyatakan diri sebagai pemeluk Islam. Bagian pertama ini bertujuan menjawab semua pertanyaan dan menjelaskan apa tuntutan yang dikehendaki Islam dari setiap muslim agar pengakuannya sebagai muslim benar dan sunguh-sungguh. Adapun bagian kedua buku ini menjelaskan kewajiban memperjuangkan Islam dan berafiliasi kepada pergerakan Islam.


    BAB PERTAMA
    Saya Harus Mengislamkan Aqidah Saya
    Syarat pertama dalam berkomitmen dan menisbahkan diri kepada Islam adalah : Aqidah seorang muslim harus lurus, jelas, dan benar, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.
    Seorang muslim tanpa aqidah yang benar tentunya tidak akan mampu membina dan merasakan komitmen terhadap Islam, karena aqidah yang tidak bersih akan tercemari oleh hal-hal yang melemahkan iman, iman yang lemah akan mempengaruhi segala aktivitas seorang muslim dalam hidupnya.
    Oleh karena itu, agar saya dapat mengislamkan aqidah saya, maka wajib bagi saya untuk :
    1. Mengimani bahwa pencipta alam semesta ini adalah Ilah yang Maha Bijaksana, Maha kuasa, Maha mengetahui, dan Maha Berdiri Sendiri. (Q.S. Al-Anbiya’ : 22)
    2. Mengimani bahwa Al-Kholiq menciptakan alam semesta ini tidaklah sia-sia, karena Allah adalah Dzat yang Maha sempurna. (Q.S. Al-Mu’minun : 115-116)
    3. Mengimani bahwa Allah swt telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk memperkenalkan Dzat-Nya kepada manusia, tujuan penciptaan, asal dan tempat kembali manusia. (Q.S. An-Nahl : 36)
    4. Mengimani bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengenal dan mengabdi pada Allah swt. (Q.S. Adz-Dzariyat : 56-58)
    5. Mengimani bahwa balasan bagi mu’min yang taat adalah jannah dan orang kafir adalah neraka. (Q.S. Asy-Syura : 7)
    6. Mengimani bahwa manusia melakukan kebaikan maupun keburukan atas pilihan dan kehendaknya sendiri. Tapi untuk kebaikan juga dipengaruhi oleh Taufiq dari Allah dan keburukan tidak ada paksaan dari Allah . (Q.S. Asy-Syams : 7-10, Al-Mudatsir : 38)
    7. Mengimani bahwa pembuat hukum hanyalah hak Allah yang tidak boleh dilangkahi, dan seorang muslim boleh berijtihad yang disyari’atkan oleh Allah . (Q.S. Asy-Syura : 10)
    8. Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah .Dari Abu Hurairah ra : telah bersabda Rasulullah saw : “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, tidak seorangpun menghafalnya melainkan ia pasti masuk surga. Dan Dia (Allah ) itu witir dan mencintai yang witir.”(Bukhari dan Muslim)
    9. Merenungkan ciptaan Allah dan bukan Dzatnya.“Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kalian berfikir tentang DzatNya, karena kalian tidak akan mampu menjangkauNya.”(Abu Nu’am dalam Al-Hilyah, dan Al-Asbahany dalam At-Targhib wa Tarhib)
    10. Meyakini bahwa pendapat salaf lebih utama diikuti untuk menutup peluang ta’wil dan ta’thil (tidak memberlakukan makna dari sebuah lafadz) serta menyerahkan makna hakiki dari nama dan sifat Allah itu hanya kepada-Nya. Ta’wil itu tidak boleh mengundang perdebatab yang berkepanjangan
    11. Mengabdi kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya. (Q.S. An-Nahl : 36)
    12. Merasa takut olehNya dan tidak merasa takut oleh selainNya. (Q.S. An-Nur : 52)
    13. Berdzikir kepadaNya secara kontiniu. Dzikir pada Allah merupakan obat spiritual yang ampuh dalam menghadapi tantangan zaman dan segala bencana yang menimpa kehidupan. (Q.S. Ar-Ra’d : 28, Az-Zukhruf : 36-37)
    14. Mencintai Allah sampai hati saya dikuasai olehNya dan terkait erat denganNya sehinggan mendorong saya untuk lebih baik dan rela berkorban di jalanNya. (Q.S. At-Taubah : 24)
    15. Bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan saya. (Q.S. At-Thalaq : 3)
    16. Bersyukur kepada Allah atas nikmatNya yang tak terhitung. (Q.S. An-Nahl : 78, Yasin : 33-35, Ibrahim : 7)
    17. Beristighfar kepadaNya secara kontiniu (dawam), karena dapat memperbaharui taubat, iman, dan menghapus dosa. (Q.S. An-Nisa’ :110, Ali-Imran : 135)
    18. Menyadari bahwa diri saya selalu diawasi olehNya kapan saja dan di mana saja berada. (Q.S. Al-Mujadilah : 7)
      Dari 18 hal yang wajib kita lakukan, yang paling utama adalah bagaimana semua hal tersebut mampu memperkuat komitmen kita terhadap Allah , Islam, dan hal-hal yang berkaitan dengannya sehingga akan membentuk karakter muslim yang berkomitmen tinggi sehingga apa saja yang menyangkut kebenaran dan kebaikan dapat dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan sebaik-baiknya di dunia dan akhirat. Dan menjauhi segala perbuatan yang dapat menjerumuskan kita kepada hal-hal yang dapat membatalkan syahadatain kita seperti syirik, mendatangi dukun, atau percaya pada hal-hal tidak syar’i
      Tujuan utama kita adalah Allah , maka mari kita luruskan niat dan perbaiki amal dan aktivitas kita hanya untuk Allah .

    Saya Harus Mengislamkan Ibadah Saya
    Di dalam islam ibadah merupakan puncak ketundukan dan pengakuan atas keagungan Allah . Ibadah merupakan tangga penghubung antara Al-Khaliq dengan makhlukNya. Ibadah yang kita lakukan haruslah dihadirkan hanya untuk Allah karena kita adalah hamba yang harus selalu menghambakan diri kepada Allah . Agar saya dapat mengislamkan ibadah saya maka saya harus :
    1. Menjadikan ibadah saya hidup dan bersambung dengan Allah
    2. Menjadikan ibadah saya khusyu’
    3. Beribadah dengan hati yang penuh kesadaran dan menjauhkan pikiran tentang kesibukan dunia dan problematika yang ada di sekitarnya
    4. Tidak pernah merasa puas dan kenyang dalam beribadah
    5. Memelihara qiyamullail dan melatih diri agar terbiasa melakukannya (Q.S. Al-Muzzammil : 6, Adz-Dzariyat 17-18, As-Sajadah : 16)
    6. Mempunyai waktu khusus untuk mengkaji dan merenungkan Al-Qur’an terutama di waktu subuh (Al-Isra’ : 78, Al-Hasyr : 21)
    Menjadikan do’a sebagai mi’roj kepada Allah dalam setiap urusan
    Saya Harus Mengislamkan Akhlak Saya
    Akhlak mulia adalah tujuan asasi dari risalah islamiyyah. Akhlak mulia harus dibuktikan dengan perbuatan dan merupakan buah dari iman. Akhlak yang mulia terlahir dari ibadah. Di antara sifat-sifat penting yang harus dimiliki seseorang agar dapat mengislamkan akhlaknya adalah :

    • Bersikap wara’ dari segala hal yang syubhat
    • Menundukkan pandangan (Q.S. An-Nur : 30)
    • Menjaga lidah
    • Rasa malu
    • Lemah lembut dan sabar (Q.S Asy-Syura : 43, Al-Hijr : 85, As-Shad : 10, An-Nur 22, Al-Furqon : 63)
    • Jujur
    • Tawadhu’
    • Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari-cari aib orang islam
    • Murah hati dan dermawan
    • Qudwah hasanah

    Saya Harus Mengislamkan Rumah Tangga Dan Keluarga Saya
    Tidak cukup menjadi muslim sendirian, tanpa perdulu terhadap orang sekitar. Karena di antara ajaran islam, yang ingin ditanamkan pada jiwa manusia adalah sikap perduli, berda’wah, menasihati dan ghiroh terhadap orang lain. Untuk membentuk rumah tangga yang islami mamak hal yang perlu dilakukan antara lain :
    1. Pernikahan yang saya lakukan harus karena Allah (Q.S. Ali-Imran : 34)
    2. Hendaknya tujuan pernikahan adalah untuk menjaga pandangan , memelihara kemaluan, dan bertakwa kepada Allah
    3. Saya harus pandai-pandai memilih pasangan
    4. Saya harus memilih pasangan yang memiliki akhlak dan din yang baik
    5. Saya tidak boleh menyalahi perintah Allah dalam masalah ini dan saya harus takut pada murka Allah

    Setelah menikah, yang harus saya lakukan adalah :
    1. Saya harus bersikap baik dan hormat kepadanya dalam pergaulan agar tercipta suasana saling percaya
    2. Jangan hendaknya hubungan saya dengannya hanya sebatas hubungan biologis, tapi juga hubungan fikroh, mentalitas serta emosi (Thaha : 132, Maryam : 55)
    Tanggung jawab mendidik anak juga harus kita islamkan agar anak memiliki mentalitas dan fikriyah yang kuat sehingga akan membentuk suatu keluarga yang islami.

    Saya Harus Mengalahkan Hawa Nafsu
    Manusia senantiasa bertarung dengan hawa nafsunya, sampai ia mengalahkannya atau hawa nafsu yang mengalahkannya, atau terus berlangsung sampai maut menjemput.
    Tonggak-tonggak kemenangan dalam melawan hawa nafsu :
    1. Hati, selama ia hidup, sadar, bersih, tegar, dan bersinar (Q.S. Al-Anfal : 2, Al-Haj : 47, Muhammad : 24)
    2. Akal, selama ia dapat memandang, memahami, membedakan, dan menyerap ilmu yang dengannya dapat mendekatkan diri dengan Allah (Q.S. Fathir : 28).
    Manakala hati manusia mati atau membatu, manakala akalnya padam, semakin banyaklah pintu syetan masuk ke dalam dirinya. (Q.S. Al-Mujadilah : 19), yaitu penyakit was-was yang dapat menghalang-halangi kita di jalan Allah .

    Hal-hal yang dapat membentengi diri dari syetan :
    1. Menjauhi kekenyangan dan makan yang kelewat batas
    2. Membaca Al-Qur’an, dzikrullah, dan istighfar
    3. Membuang jauh sifat terburu nafsu dan bersikap tenang terhadap keadaan apapun

    Saya Harus Yakin Bahwa Hari Esok Milik Islam
    Saya harus yakin bahwa hari esok adalah milik islam dan islam harus menjadi satu-satunya manhaj yang dapat memimpin dan membimbing manusia ke jalan yang benar. Kita juga harus yakin bahwa produk manusia memiliki kekurangan, dan hanya islam yang mampu mengatur seluruh aspek kehidupan sehingga islam harus menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam merupakan manhaj yang tunggal, integral, mondial, fleksibel, dan robbaniyah sehingga islam akan mampu mengatur kehidupan umat manusia. Keyakinan saya didorong oleh beberapa hal :
    1. Rabbaniyah Manhaj IslamManhaj Islam yang bercorak ketuhanan adalah suatu sibghah (konsep agama) yang menjadikannya terdepan dibandingkan dengan seluruh sistem positif produk manusia dan memiliki spesifikasi unik untuk tetap bertahan dan memberikan manfaat di setiap zaman, tempat, dan di kawasan mana pun.
    2. Universalitas manhaj IslamMerupakan perwujudan warna humanisme, konkretisasi dari warna keterbukaan dan kemampuan untuk memikul tanggungjawab keterbukaan ini. Warna ini menjadikannya meninggalkan sentimen sempit terhadap ras, nasionalisme, gender, atau keturunan.
    3. Elastisitas Manhaj Islam
      Y
      aitu warna yang memberinya kemampuan untuk menampung segala problema kehidupan yang berubah-ubah, bervariasi, dan bermacam-macam. Warna yang melapangkan tempat untuk berijtihad dalam menyimpulkan hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang tidak ada nashnya, melalui metode qiyas atau mempertimbangkan mashlahah mursalah, istihsan, dan argumen lain yang diakui syara’
    4. Kelengkapan manhaj IslamYaitu warna yang membedakannya dari sistem “bumi” serta tatanan-tatanan buatan lainnya yang memiliki tujuan terbatas. Manhaj Islam adalah sistem yang diberikan oleh Al-’Alim dan Al=Khabir, yaitu Allah Yang Mahatahu segala urusan manusia, apa saja yang dibutuhkan manusia, apa saja yang merupakan maslahat manusia, dan sebagainya.
    5. Keterbatasan Sistem-sistem “wadh’iyah” (buatan manusia)Sistem buatan manusia memiliki banyak keterbatasan dalam tataran aplikatifnya.