• Tampilkan postingan dengan label Entertainment. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Entertainment. Tampilkan semua postingan

    Salam Alaikum - Harris Jung

    Assalamu’alaikum kawan… J

    Para penggemar Awakening Record mesti seneng banget atas hadirnya penyanyi baru. Muda, berbakat dan pasti laguunya kereen abis. Yupsss…Harris Jung, from London! Dengan debut Album “Salam”. Menyebarkan kesan cinta dan perdamaian, mensyiarkan islam dengan syahdu. Salah satunya lagu ini nih, Salam Alaikum. Kereen banggett. Cek it out!

    Salam Alaikum by Harris jung







    You can try and turn off the sun
    I’m still going to shine away, yeah
    And tell everyone
    We’re having some fun today
    We can go wherever you want to
    And do whatever you like
    Let’s just have a real good time
    CHORUS:
    Assalamu Alaikum, Alaikum yeah!
    (Peace be upon you)
    I just want to spread love and peace
    And all of my happiness, yeah
    To everyone I that meet
    ‘Cause I’m feeling spectacular
    I love it when we love one another
    Give thanks everyday
    For this life, living with a smile on our face
    CHORUS
    Spread peace on the earth
    Cherish the love that is around us
    Spread peace on the earth
    Treasure the love, let it surround us
    Always be kind, always remind one another
    Peace on the earth everyday
    CHORUS
    Assalamu Alaikum, hey!
    Assalamu Alaikum, hey!
    Assalamu Alaikum
    Wa Alaikum Assalam
    Spread peace on the earth
    Cherish the love that is around us
    Spread peace on the earth every day

    Raef's Collection - You Are The One

    Jaman sekarang nasyid udah mendunia kawan, penyanyi-penyanyi luar negeri yang ganteng2 jadi salah satu daya tarik bagi para pendengar nasyid. Lama-lama makin banyak deh yang dengerin nasyid daripada lagu-lagu melo pop yang bikin galau.. hehe

    Maher zain dan sami yusuf contohnya... albumnya udah menyebar ke semua penjuru dunia. Dari anak kecil sampe kakek nenek pasti suka denger lagu-lagu yang mereka dendangkan. Nah...sekarang nambah lagi satu penyanyi nasyid yang ganteng.. Raef Namanya.. lagu-lagunya pas banget buat anak muda. 

    Salah satu lagu favoritku adalah 'Jumuah' dan 'You are the One'. Asyik banget deh...apalagi liat album path nya. Bisa di cek deh sob :D 


    You Are The One
    I thought of this before over a million times

    Who would’ve ever thought that it would be our time?
    I just know it, ’cause you’re the one
    It ain’t a selfish love, when I’m with you
    You remind me of Allah, and so I know it’s true
    I’ll just say it: you are the one

    Won’t you be my BFF (best friend forever) and ever?

    Won’t you be my partner after this world?
    We’ll see it, when we believe it together
    Dreams are meant to be, ’cause you’re the one for me

    I never thought that I would ever feel this way

    I ask Allah to bless you every single day
    I’ll just say it, ’cause you’re the one
    And when times are tough, and we’ve got the world to see
    Standing right beside you is where I want to be
    I just know it: you are the one

    Won’t you be my BFF (best friend forever) and ever?

    Won’t you be my partner after this world?
    We’ll see it, when we believe it together
    Dreams are meant to be, ’cause you’re the one for me

    I prayed about this just over a million times

    Who would ever thought that I could call you mine?
    I just know it, ’cause you’re the one
    And when there’s gray in our hair and we’ve not much to do
    I want to spend the rest of my days with you…
    Oh don’t you know it?
    You are the one, you are the one
    Oh won’t you be the one?

    GOod Music



    HIDAYAH
    By : Gradasi
    Album : Kupinang Engkau Dengan Al Quran



    Untaian do'a telah bersulam
    Mengukir janji dalam asa
    Mengiring hati sejuta bunga kala mengurai kata syukur
     padaNya
    Indah cinta terasa bawa keagungan ketika hidayah telah
     sinari jiwa

    Mekar mewangi taman hati
    Melukis senja dalam angan
    Lelah arungi samudra hidup meniti jalan keridoanNya
    Penuh dengan belukar, duri kehidupan yang selalu mencoba
     rentangkan cinta...




    Reff:
    Hidup bukanlah rangkaian mimpi yang indah
    Bertabur senang tiada terhingga
    Setiap hembusan nafas cintaku ini
    Untukmu ya Rabbi...
                                                                                       

    Inspiring Music



    MENJADI DIRIKU
    By: Edcoustic



    Tak seperti bintang di langit
    Tak seperti indah pelangi
    Karena diriku bukanlah mereka
    Ku apa adanya

    Dan wajahku memang begini
    Sikapku jelas tak sempurna
    Ku akui ku bukanlah mereka
    Ku apa adanya

    *)
    Menjadi diriku
    Dengan segala kekurangan
    Menjadi diriku
    Atas kelebihanku.......

    Terimalah aku
    Seperti apa adanya
    Aku hanya insan biasa
    Ku pun tak sempurna

    Tetap ku bangga
    Atas apa yang ku punya
    Setiap waktu ku nikmati
    Anugerah hidup yang ku miliki…

    Cerpen : Payung doa


    Ditengah sunyi suasana sepertiga malam, terdengar suara para petugas ‘obrog’ yang kencang di halaman rumah. Semakin lama suara para pemuda  yang meneriakkan kata “sahuur….sahuur…!!!” terasa semakin kencang saja.
    Memang yang namanya membangunkan sahur di hari-hari pertama bulan Ramadan, para petugas obrog selalu bersemangat. Walaupun sebagian orang merasa mereka ‘terlalu bersemangat’. 
    Merasa sedikit terganggu, Anis terbangun dengan wajah kesal, “Eeeuukhh...!!! gak bisa bangunin sahur pake lagu yang lebih enak apa??” teriaknya  sambil melempar selimut bergambar beruang kecil yang menutupi badannya.
    Namun apa mau dikata? para petugas obrog yang kian larut dengan musik mereka tak akan mungkin mendengar kekesalan dari mulut Anis. Tak betah dengan suara yang merusak pendengarannya, Anis terjun dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan langkah yang masih sempoyongan. Seperti biasanya, ia ambil  segayung air untuk membasuh wajah ayunya.
    ”Wuiihhh….gila..dingin banget…!!!” Anis bergidig.
    “Baiklah…untuk kali ini cukup segayung saja” sambungnya sambil meletakkan gayung dengan tangan yang gemetaran.
    Anis benar-benar tak mau mencoba membasuh wajahnya lagi. Buru-buru ia menghindar dari dinginnya udara di kamar mandi. Ia buka pintu kamarnya lalu keluar menuju dapur. Tampak ayah, ibu dan adiknya telah standby di depan meja makan.
    “Naaahhh…si putri tidur bangun juga!!!” teriak Doni ketika melihat kakaknya datang.
    “Husyy…gak boleh gitu!” tegur bu Aisyah.
    Anis pura-pura tak mendengar ledekan adiknya. Ia hanya duduk lalu menunggu gilirannya mengambil  nasi. Bagi Anis sahur kali ini ia mesti makan lebih banyak, karena ini hari pertama ia masuk sekolah di bulan Ramadhan. Selesai sahur Anis langsung menuju kamar, niatnya ingin tidur lagi agar ia tak merasa mengantuk saat sekolah.
    Nis…shalat subuh dulu..” kata bu Aisyah ketika melihat putrinya pergi begitu saja.
    “Iya, Bu..” jawab Anis refleks, walaupun sebenarnya ia tak mendengar jelas perkataan ibunya. Bruuggh…ia lemparkan tubuhnya di kasur, lalu melirik jam dinding yang menempel di pojok kamar.
    “Masih pagi…setengah jam cukup deh buat tidur, jam lima baru shalat subuh” sahutnya.
    Tanpa kompromi lagi ia pejamkan matanya. Sesaat kemudian si jago tidur telah sampai di negeri mimpi.

    Tok…tok...tok…”Aniss…!!!” tok..tok..tok… Anis terbangun mendengar ketukan keras  pintu kamarnya. Rasanya baru lima menit ia tertidur.
    “Anis…bangun nak..sudah siang!” terdengar suara Ibu di depan pintu.
    “Iya, Bu! Duh…masih pagi gini dibilang siang!” gerutunya lalu melirik lagi jam dinding.
    “Shiiittt….koq bisa???!” pekik Anis. Tampak jarum jam telah tepat di pukul setengah tujuh. Anis bingung harus melakukan apa terlebih dulu. Sekilat ia menyambar seragam yang tergantung di lemari. Lalu bergegas menuju kamar mandi. Anis tak tau pagi itu mandinya bersih atau tidak. Yang ada difikirannya hanyalah berangkat tepat pukul tujuh kurang seperempat, karena butuh kurang lebih 15 menit untuk sampai disekolah. Kini Anis selesai memakai seragam jilbabnya, mengambil tas sekolah yang ia lupa lengkap atau tidakkah buku pelajaran yang harus ia bawa hari itu.
    “Bu…Anis mau berangkat…!” teriak Anis mencari Ibu.
     “Sebentar Nak, Ada titipan untuk bu guru Risa” jawab Ibu yang tampak sedang membungkus sebuah paket.
    “Aduhh...Bu..! Nggak bisa lain waktu apa? Anis bisa kesiangan nih..!” Anis mengeluh, wajahnya mulai tampak gelisah.
    “Sebentar lagi nak....bu Risa memerlukannya sekarang. Kebetulan kan wali kelas kamu” bu Aisyah mencoba menjelaskan.
    Anis merasa benar-benar kesal ketika Ibunya masih juga belum selesai.
    “Ini..tolong ya!” bu Aisyah memberikan sebuah bungkusan pada Anis.
    “Lama banget sih bu…” gerutu Anis sambil menerimanya.
    “Jangan terburu-buru nak…hati-hati…kan masih pagi!”
    “Pagi-pagi apa bu...ini sudah mau jam tujuh. Ibu mau liat Anis dihukum ya??“ bentak Anis dengan agak kesal  lalu sekilat ia berlari keluar rumah.
    Wajah Ibu Aisyah tampak sedih melihat anaknya, tapi bukan…bukan sedih, melainkan hawatir terhadap keselamatan putrinya yang sering kali terburu-buru. Bibirnya bergetar seraya berkata, “ Ya Allah...lindungi putriku…”
    Anis cepat-cepat berlari menuju jalan. Di sebrang jalan, tampak sebuah angkot berwarna biru muda melintas. Anis mencoba memberi isyarat, tapi sang sopir tak melihatnya dan berlalu begitu saja.
    “Siaall…!! Gimana ini??” rasa cemas mulai menyelimuti hati Anis. Berkali-kali ia melirik jam tangannya. Maklum, jarang sekali mendapatkan angkot yang menuju sekolahnya.
    Beberapa menit kemudian ahirnya ia mendapatkan sebuah angkot. Di perjalanan, fikirannya kalang kabut. Ia tak tau alasan apa yang harus ia katakana atas keterlambatannya dihari pertama masuk sekolah. 
    Perjalanan kali ini terasa lama sekali, baru kemudian Anis sadar jalanan macet. Ada apa, Bang??“ tanya pak sopir kepada sopir angkot lain yang berada disampingnya.
    “Tabrakan!” jawabnya.
    Anis terkejut. Sedikit demi sedikit angkot yang ditumpanginya berjalan. Kira-kira 3 meter didepannya tampak sebuah mobil truk yang kini tak berbentuk menindih sebuah mobil angkot berwarna biru muda. Anis membelalakan matanya ketika ia tahu bahwa angkot tersebut adalah angkot yang ia coba hentikan beberapa menit yang lalu. Ya...Anis  semakin yakin ketika melihat seseorang berpakaian hijau tua yang ia ingat sebagai sopir angkot tersebut sedang diselamatkan oleh warga.
    “Ya Allah…benarkah yang aku lihat ini??“ hati Anis bergetar. Sebuah tandu membawa seorang pelajar berpakaian putih abu melintas dihadapan angkot yang ditumpangi Anis. Wajahnya hampir tak dapat dikenal karna dipenuhi dengan darah. Saat itu Anis berkali-kali beristighfar, sesekali ia memalingkan mata karena tak tahan melihat pemandangan miris tersebut. Mata Anis berkaca-kaca saat ia menyadari bahwa baru saja ia terselamatkan dari sebuah musibah yang dapat mengancam nyawanya. Ia membayangkan seandainya ia ada di dalam angkot tersebut mungkin ia lah yang sedang tergeletak di atas tandu. Bersimbahan darah, tak tau apakah ia dapat terselamatkan atau tidak. Anis ingat akan ibunya, coba kalo aku tak menunggu titipan Ibu ya Allah…lirihnya. Anis sadar Ibunyalah perantara perlindungan itu.
    Angkot yang ditumpangi Anis kini terbebas dari kemacetan dan mulai berjalan lebih cepat. Entah apa yang membuat Anis berhenti memikirkan sekolahnya. Yang ada difikirannya adalah angkot biru muda, baju hijau tua dan pelajar bersimbahan darah.

    Anis menyetop angkot di depan sekolah, lalu ia berjalan menuju gerbang. Suasana tampak sepi. Anis melihat jam tangannya, pukul tujuh dua puluh…ya Ampuunn… Anis mencoba mempercepat langkahnya.
    “Addduuhh…!!” pekik Anis. Kakinya tiba-tiba tersandung batu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Kakinya terasa sakit sekali. Sekilas ia memastikan tak ada darah yang keluar dari kakinya, lalu kembali berjalan dengan terpincang-pincang.  
    Terlihat satu dua orang siswa memasuki gerbang sekolah. Hati Anis sedikit lega melihat ada teman yang terlambat. Namun tiba-tiba perasaan aneh mulai menyergapnya ketika ia memasuki sekolah, tak ada penjaga yang biasa mangkal di gerbang untuk menangani siswa yang terlambat. Siswa-siswi pun masih berkeliaran di depan kelas.
    “Anis…!! Tunggu Nis!” dari belakang terdengar suara memanggil Anis.
    Anis menoleh, “ Sinta, kamu kesiangan juga?”.
    “Kesiangan?? Bercanda kamu…Kan baru jam setengah delapan. Sekarang kan bulan puasa, Nona. Masuknya jam delapan” Sinta coba menjelaskan.
    Anis terhenyak, kini ia baru ingat, benar-benar ingat. Wajahnya mulai memerah, matanya kembali berkaca-kaca. Ia mencoba menahan tangis namun hatinya menjerit. Menjerit sekencang-kencangnya. Ia terbayang akan kejadian tadi pagi. Ia benar-benar marah pada dirinya yang sering kali tergesa-gesa bahkan kadang menyakiti hati Ibu. Anis terdiam menghentikan langkah kakinya.
    “Kenapa, Nis??” Tanya Sinta.
    “Kamu duluan aja. Ntar Anis nyusul” jawabnya pendek. Lalu ia berbelok melangkah menuju mushola. Setiba di mushola, sepatu ia lepas, cepat-cepat Anis berlari memasuki mushola. BruugGhhh…Anis membiarkan tubuhnya terjatuh di lantai, lalu bersimpuh. Air matanya mulai menetes membasahi pipi. Tangisnya meledak membayangkan peristiwa yang ia alami. Ia terbayang wajah Ibunya, wajah kesedihan dikala ia membentaknya.
    “Allah…Allah…ampuni aku…” Anis memelas disela tangisnya.
    “Ampuni aku ya Rabb…sampaikan maafku pada Ibu ya Rabb..” Anis tak henti-henti meminta ampun. Lama ia bersujud, matanya mulai sembab. Ia mencoba menghapus air matanya. Hatinya kini dipenuhi sejuta sesal. Ia sadar banyak kesalahan yang tak semestinya ia lakukan di Ramadan ini. Ramadhan yang seharusnya dimanfaatkan untuk mengabdi, sering ia sia-siakan. Bahkan acap kali menyakiti hati Ibu.
    Hari itu fikiran Anis benar-benar tak karuan. Ia benar-benar ingin segera pulang. Menemui Ibunya untuk bersimpuh…, meminta maaf.

    KESENIAN CINGCOWONG

    Kurang lebih tahun 1990, di Dusun Wage Desa Luragunglandeuh Kecamatan  Luragung Kabupaten Kuningan seorang yang bernama “ Eyang Nata “ telah menciptakan sebuah kesenian tradisional yang di sebut dengan Cingcowong. Adapun arti kata “Cingcowong” yaitu orang-orangan (dalam bahasa sunda disebut “bebegig”) atau diambil dari kata “wong” yang artinya orang.
          Kesenian tradisional tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada keturunan asli dari Eyang Nata dan sekarang keturunan yang mewarisi kesenian tradisional tersebut katurunan yang ke-4 yaitu aeorang yang bernama Ibu Nawita.
          Kesenian tradisional Cingcowong yaitu berupa pertunjukan yang dipeegelarkan dalam keadaan atau pada saat tertentu saja, yaitu pada saat terjadinya musim kemarau yang berkepanjangan antara 3 hinga 4 tahun berturut-turut, dan pergelaran tersebu dilaksanakan secara sukarela atau atas kesadaran sendiri demi membantu masyarakat dan untuk kemakmuran bersama.
          Tujuan kesenian tradisional Cingcowong yaitu sebuah pagelaran ritual unutk meminta hujan.
          Pagelaran Cingcowong dari mulai tahun 1960 hingga tahu 1995 sering ditampilkan, baik permintaan khusus atau permintaan dari Disparbud. Kesenian tersebut sering dipentaskan ditingkat Provinsi Jawa Barat dan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
          Dari mulai tahun 1996 samapai sekarang kesenian tersebut jarang dipagelarkan, dikarenakan tingginya curah hujan dan stabilnya iklim yang ada di Indonesia. Tetapi kesenian tradisional Cingcowong hingga saat ini tetap dilestarikan dengan tujuan agar generasi muda mengetahui, memahami, mencintai dan ikut melestarikan kebudayaan kesenian tradisional tersebut dan juga merupakan asset kesenian dan kebudayaan Pemerintah Kabupaten Kuningan yang harus dijaga kelestariannya.

          Adapun perlatan yang dipergunakan untuk kesenian Cingcowong tersebut adalah sebagai berikut :
    1. Bubu (dalam bahasa sunda disebut buwu) yaitu alat untuk menangkap ikan atau perangkap ikan yang terbuat dari anyaman bamboo yang digukan sebgai badab Cingcowong.
    2. Gayung (dalam bahasa sunda di sebut siwur) sebagai kepalanya dan didandani sehingga menyerupai wajah wanita cantik, dalam ungkapan lain sebagai jelmaan wajah bidadari dan pakaian yang digunakan yaitu pakaian kebaya panjang sebagai sabuknya yaitu kain putih dan sebagai hisan dileher atau kalung yaitu memakai bungan kamboja yang dirangkai dan bunga tersebut dirangkai dan bunga tersebut diambil dari kuburan.
    Alat-alat pengiring yang digunkan pada pagelaran Cingcowong, diantaranya :
    1. Jambangan yang terbuat dari kuningan (disebut dengan bokor), kuningan yang dipukul sebagai ketukan (disebut dengan cneng)
    2. Tempayan (buyung) untuk pengatur irama yang dipukul dengan kipas yang terbuat dari anyaman bambu.
    3. Tangga yang terbuat dari bambu yang berfungsi untuk membawa atau menyambut turunya arwah lelembut atau dalam peribahasa untuk menyambut turunya bidadari.
    4. Tikar pandan atau tikar yang terbuat dari anyaman pandan yang biasa digunkan untuk alas orang yang meninggal dunia atau mayat, yang berfungsi sebagai alas tempat duduk pagelaran tersebut.
    5. Ruas bambu yang dipukul-pukul untuk mengiringi irama.
    Pagelaran Cingcowong dilaksanakan pada malam Jumat, sekitar pukul 17.00 Cingcowong disimpan di parit kecil (comberan) dan dengan mantra-mantra Cingcowong tersebut diisi dengan arwah penasaran yaitu arwah wanita penasaran yang tidak sempurna meninggalnya, biasanya wanita yang meninggal karena bunuh diri, gantung diri atau wanita yang sedabg hamil tua lantas meninggal dan peribahasa untuk memanggil arwah ini disebut dengan nyambat arawah bidadari.
    Kurang lebih pukul 20.00 pagelaran dimulai diawali dengan suara jambangan atau bokor kuningan yang dipukul-pukul dan disusul oleh sura tempayan yang dipukul-pukul dengan kipas yang terbuat dari anyaman bambu untuk mengatur irama ditambah denngan suara bamboo yang dipukul-pukul maka datanglah 2 orang perjaka masuk ke arena dengan membawa tangga yang terbuat dari bambu untuk menyambut kedatangan Cingcowong yang suadh dirasuki arwah lelembut atau juig jarian dalam peribahasa arwah bidadari.
    Cingcowong tersebut dibawa oleh Ibu Nawita sebgai ahli waris dari kesenian tersebut dan didampingi oleh 4 wanita yang masih keturunan Ibu Nawita atau Eyang Nata membawa kain panjang memasuki arena pentas kesenian Cingcowong tersebut. Setelah itu dalatanglah keetua adapt (dukun) seorang kakek-kakek sambil membawa kemenyan yang telah dibakar memasuki arena dan setelah ituterdengarlah suara lagu berlaraskan Salendro yang dibawakan atau dinyanyikan oleh Ibu Nawita.
    Adapun kalimat untuk memanggil Cingcowong adalah sebagai berikut :
    Cingcowong cingcowong
    Bil guna bil lembayu
    Salala lala lenggui
    Aya panganten anyar
    Aya panganten anyar

          Lili lili pring
    Denok simpringan ngali lirong
    Mas borojol gedog
    Mas borojol gedog
    Lili liguling
                Gulingna sukma katon
    Layoni putra maukun
    Maukun mangundang dewa
    Aning dewa aning sukma
    Jak rujak ranti
          Dan setelah kalimat terakhir diucapakan Cingcowong mulai bergerak dan lari mengejar penonton yang tidak percya bahwa Cingcowong tersebut telah dirasuki arwah lelembut, dan bisa jadi Cingcowong mengejar-ngejar karena suka pada orang tersebut dan pada orang yang mengolok-oloknya dengan kata-kata “Cingcowong cingcowong, hulu canting awak buhu”.
          Pada sat pagelaran dilaksanakan, ketua adat membawa ember berisi air dan diciprat-cipratkan atau disiramkan kepada para penonton sambil mengucapkan kata-kata:
          Hujan….
          Hujan….
    Hujan….

          Personil dalam pagelaran tersebut seluruhnya berjumlah 10 orang yang terdiri dari :
    • 1 orang pemukul jambangan atau bokor
    • 1 orang penabuh tempayan
    • 2 orang pembawa tangga
    • 4 orang pembawa kain panjang
    • Ibu Nawita sebgai pemeran utama, yang memegang peranan penting dalam pagelaran Cingcowong.
    • Seorang kakek-kakek, ketua adapt (dukun) yang membawakan kemenyan
    Tugas Kesenian SMA_